Toba Caldera Resort, Sibisa, 22386

Jl. Kapt. Pattimura No.125 Medan 20153 Sumatera Utara

info@bpodt.id

Toba : (0625) 41500 Medan: (061)450-2908

Trail of The Kings by UTMB: Jejak Para Raja, Langkah Baru Danau Toba

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Kabut di lereng Pusuk Buhit turun perlahan pagi itu, seolah membuka kembali panggung sejarah. Dari kejauhan terdengar langkah ratusan pelari dari berbagai negara menembus sunyi, menjelajahi tepian Danau Toba. Mereka berlari melewati padang rumput dan hutan, menanjak bukit, lalu melintas di tepi danau yang birunya memantulkan cahaya matahari pagi. Mereka datang bukan hanya untuk berkompetisi, tapi seperti sedang menelusuri kembali jejak peradaban yang membentuk kawasan ini.

Inilah Trail of The Kings Lake Toba by UTMB, bagian dari UTMB World Series yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia. Sebuah momentum besar yang kami hadirkan melalui kolaborasi antara BPODT dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Bagi kami, ajang ini bukan sekadar lomba, tapi pengakuan dunia bahwa Danau Toba—danau vulkanik terbesar di dunia dan anggota resmi UNESCO Global Geopark—layak menjadi destinasi kelas dunia. Event ini menjadi simbol harmoni antara alam, manusia, dan sejarah.

Trail of The Kings bukan hanya olahraga lintas alam. Ia kisah baru yang berakar dari legenda lama. Jalur yang dilalui pelari bukan sembarang rute, melainkan lintasan yang dulu digunakan para leluhur Batak—para raja huta—ketika membuka perkampungan, berdagang, berburu, atau berpindah di sekeliling danau. Kini, jalur itu dihidupkan kembali bukan dengan tombak dan parang, melainkan dengan sepatu lari dan semangat persahabatan antarbangsa.

Sebagai Direktur Pemasaran BPODT, saya melihat event ini sebagai strategi yang melampaui promosi. Ini bukan kampanye pariwisata dalam arti sempit, tapi cara baru memperkenalkan Danau Toba melalui pengalaman nyata. Branding berbasis petualangan, di mana trekking, cycling, dan kayaking bukan hanya aktivitas wisata, melainkan wujud dari keterlibatan masyarakat dan cinta terhadap tanahnya sendiri.

Sejak hari pertama lomba, suasananya tak mudah dilupakan. Dari video yang diunggah peserta, tampak anak-anak di perbukitan Sianjur Mula-mula berlari kecil di tepi jalan, melambai dan berteriak, “Tos, Bang! Semangat, Mister!” sambil menadahkan tangan untuk high-five. Banyak pelari berhenti, menyalami mereka, bahkan ikut tertawa. Beberapa anak berlari mengikuti pelari asing yang menanjak pelan dengan napas tersengal. Di ladang dan teras rumah, ibu-ibu melambaikan tangan, tersenyum dalam cara yang sederhana tapi tulus—senyum yang tidak bisa diajarkan, hanya diwariskan.

Bagi banyak pelari, baik nasional maupun internasional, pengalaman itu sulit dilupakan. Ada yang bilang mereka susah fokus berlari karena pemandangan Danau Toba terlalu indah dan sambutan warga terlalu hangat. Awalnya mereka datang untuk berlari, namun di tengah mereka bimbang apakah harus mengejar waktu atau malah “ngonten” karena semuanya luar biasa, pemandangan alamnya dan keramahan masyarakatnya.

Keramahan itu juga terasa di setiap water station. Sekitar dua puluh titik istirahat berubah menjadi ruang perjumpaan budaya. Ada bubur hangat, buah segar, dan kudapan lokal seperti ombus-ombus dan lapet, disajikan berdampingan dengan air mineral dan isotonik. Banyak pelari menyebutnya seperti “prasmanan kondangan di tengah hutan.” Mereka makan sambil bercanda dengan ibu-ibu penjaga pos, lalu melanjutkan lari dengan tenaga baru.

Namun, di balik semua yang membahagiakan itu, kami tidak menutup mata terhadap kekurangan. Masih ada pelari yang dikejar anjing liar di beberapa desa, bahkan ada yang sempat dikejar kerbau saat melintas di padang penggembalaan. Cuaca pun tidak bersahabat—panas menyengat sejak pagi hingga siang, membuat banyak peserta harus berhenti lebih sering dari rencana. Sebagian pelari bercanda, “Mungkin karena di tempat lain sedang ada pesta marga, jadi mendungnya ikut bergeser.” Kami menanggapinya dengan tawa, tapi dalam hati tahu, ini semua catatan berharga untuk perbaikan ke depan: pengendalian hewan liar, penambahan titik teduh, dan kesiapan logistik di jalur panas.

Di sisi lain, koordinasi lapangan tetap tangguh. Panitia dan pemerintah daerah menyiapkan tim medis, relawan, serta media lapangan yang siaga. Ketika ada peserta yang kram, mimisan karena heat stroke, atau kelelahan, semua bergerak cepat. Petugas, panitia, bahkan jurnalis yang sedang meliput ikut membantu—membawakan air, memapah, atau berjalan menemani hingga checkpoint berikutnya. Itulah wajah sejati Danau Toba yang saya lihat di lapangan: tangguh, empatik, dan penuh gotong royong.

Yang membuat saya paling bangga adalah keterlibatan masyarakat. Dua puluh empat desa di Ronggur Nihuta, Pangururan, dan Sianjur Mula-mula ikut ambil bagian. Petani, guru, pengrajin ulos, hingga anak muda menjadi marshal, pengatur jalur, dan pemandu wisata. Para ibu membuka homestay, menyiapkan makanan untuk peserta. Komunitas adat tampil dengan gondang sabangunan dan doa Batak kuno pada pembukaan lomba. Semua bergerak karena rasa memiliki terhadap tanah ini, bukan karena disuruh.

Inilah dasar dari branding berbasis nilai yang kami yakini: destinasi tidak dibangun dari citra, tetapi dari bukti. Bukti itu tampak dalam senyum warga, kelezatan kudapan lokal, dan rasa aman yang membuat para pelari merasa seperti berlari di kampung sendiri—meski kami tahu masih banyak yang perlu dibenahi.

Dampak ekonominya langsung terasa. Homestay penuh, kendaraan sewaan laris, warung dan toko kecil ramai, penjual souvenir di Pangururan dan Samosir melaporkan omzet meningkat tajam. Beberapa investor mulai melirik potensi adventure tourism: glamping, jalur sepeda, dan tur kayak berbasis komunitas. Seperti halnya F1Powerboat di Balige, Trail of The Kings kini menjadi penggerak ekonomi baru di Danau Toba.

Lebih dari itu, yang kami rasakan adalah transfer pengetahuan dan kebanggaan. Bersama panitia UTMB, masyarakat belajar tentang manajemen event berkelas dunia, keselamatan peserta, dan pengelolaan lingkungan. Dari proses ini, tumbuh keinginan baru: menjadikan anak-anak muda Danau Toba bukan hanya penjaga jalur, tapi pemilik masa depan wisata petualangan di kampungnya sendiri.

Selepas pagi di keesokan hari, di Waterfront City Pangururan, pelari terakhir kategori 100 km melintasi garis finis. Matahari memantul di permukaan danau, seolah menegaskan makna dari semua ini: Danau Toba bukan sekadar tempat indah, ia tempat yang hidup. Banyak pelari meneteskan air mata. Ada yang menangis karena lelah, ada yang bangga telah menaklukkan jalur yang berat dengan pengorbanan. Di antara mereka, tampak diaspora Batak yang sudah lama merantau. Mereka terharu menyaksikan masyarakat kampung halaman kini aktif, ramah, dan terbuka. Banyak yang berbisik, “Saya tak pernah menyangka, orang Batak bisa sehangat ini.” Stereotipe lama tentang kekerasan karakter pun runtuh di hadapan senyum warga dan ulos yang disampirkan di bahu mereka. Testimoni dari banyak pelari, mereka tidak tahu mana yang lebih luar biasa—alamnya atau manusianya.

Saat itu, saya turut terharu. Di situlah saya sadar, bahwa promosi terbaik bukan lewat baliho, tetapi lewat rasa. Danau Toba telah membuktikan bahwa destinasi kelas dunia bukan soal kemewahan, melainkan kedalaman pengalaman. Bukan tentang siapa yang datang, tapi bagaimana mereka merasa ketika datang.

Trail of The Kings Lake Toba by UTMB adalah bukti bahwa event bisa menjadi alat pembangunan wilayah, ruang belajar bersama, dan bentuk diplomasi budaya yang lembut. Ia menyatukan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan dalam satu momentum yang membawa manfaat sosial dan ekonomi nyata—dengan segala tantangannya yang membuat kita terus belajar.

Kini dunia tahu, Danau Toba tak hanya mampu menjadi tuan rumah event internasional, tapi juga tuan rumah bagi semangat kemanusiaan. Setiap langkah di tanah ini adalah langkah menuju kemandirian; setiap senyum warga adalah pesan bahwa pembangunan sejati tumbuh dari kebersamaan. Dan ketika tahun-tahun berikutnya menghadirkan ribuan pelari lagi dari berbagai benua, saya yakin mereka tak hanya datang untuk berlari. Mereka akan datang untuk pulang—ke tempat yang menyambut mereka dengan langit biru, udara sejuk, ulos yang hangat, dan hati yang terbuka.

BPODT
BPODT

Leave a Replay

Recent Posts

Follow Us